Perpustakaan SMPN 222

Perpustakaan

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of The Kite Runner

Text

The Kite Runner

Khaled Hosseini - Nama Orang;

Kutipan itu saya ambil dari sampul belakang The Kite Runner, novel karya Khaled Hosseini yang sudah lama berdiri di lemari buku saya. Sejujurnya butuh waktu lumayan panjang untuk menuntaskan membaca novel ini. Selain karena (sok) sibuk, pengetahuan sempit saya tentang Afghanistan memancing saya untuk sering-sering menyelingi proses membaca itu dengan googling seputar awal mula perang Soviet-Afghan sampai kondisi Afghan sekarang ini. Lumayan lah, nambah pengetahuan. Kembali lagi ke The Kite Runner, novel Afghanistan pertama yang diterjemahkan ke dalam 42 bahasa, bertengger di #1 New York Times Bestseller selama dua tahun dan dianugerahi Humanitarian Award oleh UNHCR tahun 2006 lalu. Tidak mengherankan jika novel ini meraih banyak penghargaan, segala sisi novel ini berkesan (terutama untuk saya), mulai dari pendeskripsian budaya lokal dan konflik perang yang apik, hingga gaya penceritaan Hosseini yang jujur dan menyentuh untuk sebuah isu penting tentang kehidupan, yakni tentang sebuah pilihan dan penebusan rasa bersalah.
Mengisahkan persahabatan antara Amir dan Hassan yang merupakan saudara sepersusuan namun sangat berbeda. Amir lahir dari kaum Pasthun sedangkan Hassan berasal dari kaum Hazara. Yang satu dianggap sebagai tuan dan yang satu hambanya. Di Afghanistan, kaum Hazara adalah sasaran kekerasan dan dianggap sebagai budak. Namun di rumah Baba (ayah Amir), Hassan dan ayahnya, Ali, dianggap seperti keluarga. Bahkan terkadang kasih sayang Baba kepada Hassan, sang pelayan, membuat Amir cemburu. Baba senantiasa memberi Hassan perhatian-perhatian kecil yang ia rindukan, sedangkan ia sendiri perlu berbuat sekuat tenaga untuk mendapatkan pengakuan ayahnya.
Relasi yang unik antara ayah-anak itu tergambar sekali dari kutipan berikut:
“Aku dan Baba tinggal di rumah yang sama, namun dalam dimensi yang berbeda. Layang-layang adalah lembaran setipis kertas yang bisa menyatukan kedua dimensi itu.”
Ya, lewat kemenangannya di festival layang-layang lah ia bisa mendapat pengakuan dari Baba. Tapi sayangnya, untuk mendapatkan itu Amir harus mengkhianati Hassan dan menciptakan lubang besar bernama “penyesalan” di dalam hatinya. Apa itu? Silakan baca sendiri novelnya yaa…
Melalui sudut pandang Amir sebagai tokoh utama, Hosseini menggambarkan jelas betapa berat rasa bersalah yang ditanggungnya, apalagi saat Hassan tetap setia menjadi teman sekaligus pelayannya sambil berpura-pura tak terjadi apa pun. Ketulusan hati Hassan membuat saya hmmm, aduuuhh, ikut sesak nafas dan merasakan himpitan di dada Amir. Menurut saya, itu segmen paling menyentuh.
Cerita berlanjut hingga kengerian konflik menggantikan kedamaian Kabul. Bukan lagi layang-layang, melainkan suara bom, tembakan dan jerit tangis orang-orang ketika menyaksikan kerabatnya matilah yang mewarnai langit Kabul. Bersama sang ayah, Amir terpaksa meninggalkan Kabul dan menetap di Amerika Serikat.
Meski menjalani hidup sesuai dengan keinginannya di Amerika, bayang-bayang Hassan dan Kabul masih kerap menghantui Amir. Hingga dua puluh tahun kemudian, sebuah panggilan telepon membawanya bertualang menuju penebusan dosa-dosa masa lalunya. Petualangan itu menuntunnya pada Sohrab, putra Hassan. Petualangan yang pada akhirnya membebasan beban di dadanya. Novel ini memang bukan bacaan yang mudah. Mungkin tidak semua kalangan bisa menikmatinya, ada beberapa adegan kekerasan seksual yang digambarkan secara eksplisit, juga (mungkin beberapa orang) perlu konsentrasi lebih untuk mengimajinasikan saat-saat jatuhnya monarki sampai kekerasan Taliban. Namun, itu semua masih kalah dengan alur penceritaan yang mulus tapi mengejutkan, serta penggambaran karakter masing-masing tokoh yang kuat: Amir kecil dengan cemburu dan pengecutnya, Hassan dengan kesetiaan tanpa batasnya, Baba dengan ekspektasi dan tuntutannya terhadap Amir, juga tokoh-tokoh lainnya. Lewat penggambaran itulah saya hanyut dalam konflik dan relasi antar tokohnya.Ada banyak pelajaran yang kiranya dapat kita petik dari novel ini, baik yang eksplisit maupun implisit. Seperti kata “Kite” pada judul buku ini, yang saya menurut saya bisa diartikan sebagai sesuatu yang lain, yang bukan hanya bermakna layang-layang secara harfiah. Mungkin bisa jadi kebahagiaan, kesempatan, atau hidayah.
Selamat terbawa suasana.


Ketersediaan
P00938S813 HOS tPERPUSTAKAAN 222 (14)Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
813 HOS t
Penerbit
Bandung : Penebit Qanita., 2008
Deskripsi Fisik
496 hal ; 20.5 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-979-3269-75-7
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
5
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Perpustakaan SMPN 222
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik